pembelajaran berbasis masalah

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

                Model pembelajaran berbasis masalah dikembangkan berdasarkan konsep-konsep yang dicetuskan oleh Jeremo Bruner. Konsep tersebut adalah belajar penemuan atau discovery learning. Mengenai discovery learning, Johnson membedakannya dengan inquiry learning.  Dalam discovery learning, ada pengalaman yang disebut “……Ahaa experience” yang dapat diartikan seperti, …..Nah, ini dia”. Sebaliknya , inquiry tidak selalu sampai pada proses tersebut. Discovery learning dan inquiry learning merupakan pembelajaran beraksentuasi pada masalah-masalah kontekstual.  Keduanya merupakan pembelajaran yang menekankan aktivitas penyelidikan.

                Model pembelajaran ini mempunyai cirri umum yaitu menyajikan kepada siswa tentang masalah yang autentik dan bermakna yang akan memberikan kemudahan kepada para siswa untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Model ini juga mempunyai cirri khusus yaitu adanya pengajuan pertanyaan atau masalah, berfokus pada keterkaitan antar disiplin ilmu, penyelidikan autentik, menghasilkan produk/karya, memamerkan produk tersebut dan adanya kerjasama

                Sebagai contoh masalah autentik adalah “bagaimanakah kita dapat memperbanyak bibit bunga mawar dalam waktu singkat supaya dapat memenuhi permintaan pasar”. Apabila pemecahan terhadap masalah tersebut ditemukan, maka akan member keuntungan secara ekonomis. Masalah seperti ”bagaimanakah kandungan klorofildaunpada tumbuh-tumbuhan yang tumbuh pada tempat yang tingkat intensitas cahanya berbeda” merupakan masalah akademis yang apabila ditemukan jawabannya belum dapat member manfaat praktis secara langsung.

                Landasan teoritikdan empiric model pengajaran berdasarkan masalahadalah gagasan dan ide-ide para ahli seperti Dewey dengan kelas demokratisnya, Piaget yang berpendapat bahwa adanya rasa ingin tahupada anak akan memotivasi anak untuksecara aktif membangun tampilan dalam otak mereka tentang lingkungan yang mereka hayati. Vygotsky yang merupakan tokoh dalam pengembangan konsep konstruktivisme sebagai konsep yang dianut dalam pembelajaran berdasarkan masalah.

                Sintaks pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut.

FASE-FASE

PERILAKU GURU

Fase 1 :

Memberikan orientase tentang permasalahan kepada peserta didik

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistic penting dan memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah.

Fase 2 :

Mengorganisasikan peserta didik untuk meneliti

Guru membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar terkait dengan permasalahannya

Fase 3 :

Membantu investigasi mandiri dan kelompok

Guru mendorong peserta didik untuk mendapatkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen dan mencari penjelasan dan solusi

Fase 4 :

Mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan axhibit

Guru membantu peserta didik dalam merencanakan danmenyimpan artefak-artefak yang tepat, seperti laporan, rekaman video dan model-model serta membantu mereka untuk menyampaikannya kepada orang lain

Fase 5 :

Menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah

Guru membantu peserta didik melakukan refleksi terhadap investigasinya dan proses-proses yang mereka gunakan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s